PURA DALEM PURWA KUBONTINGGUH

Senin, 20 Desember 2010


A.    Sejarah singkat asal usul Pura.

1.      Babad Arya Tabanan.

Secara tertulis dalam babad Arya Tabanan koleksi Gedong Kirtya Singaraja tertulis tentang Pura Dalem Purwa Kubontingguh, disebutkan bahwa salah seorang keturunan Arya Kenceng yang berstana di Pucangan yang bergelar Sri-Magadanata, lazim disebut Arya Ngurah Tabanan melakukan kesalahan membelai rambut Putra Mahkota Dalem. Akibat kesalahan ini ia di utus ke Majapahit untuk mengetahui keadaan di sana karena huru hara. Lebih jelasnya berikut disajikan kutipan babad Arya Ngurah Tabanan.
“Kunang Sri Magadanatha wyadin Arya Ngurah Tabanan, inutus uminter maring Majapahit, amretyaksoken Ratu wilwatikta, tan wasiteng awan mwang pangiringnya prapta maring Wilwatikta, tistis samun kang negara, aro-ara karep irang para bahudandakatekaning tani-tani, apan kinasuking gama selam, dadi malwi sira mantuking Bali”.
Artinya :
Diceritakan Raja Sri Magadanatha atau Arya Ngurah Tabanan, di utus oleh Ida Dalem berangkat ke Majapahit, menyelidiki keadaan Raja Majapahit, tak terceritakan dalam perjalanan bersama anggota tibalah di Majapahit, Negara dalam keadaan sepi, terkejut semua para Bahudanda demikian juga masyarakat kebanyakan, sebab dimasuki agama islam, karena itu kembali beliau ke Bali.

“Satibeng irang Bali, ari maring Puri Pucangan stri kambil de Dalem Gelgel tinarimaken maring kiyai Azak ring Kapal, katereh de Arya Kresna Kepakisan, kesatriyakula wetning kadiri”.
Artinya :
Setibanya di Bali, Adik Perempuan di Puri Pucangan diambil oleh Ida Dalem Gelgel dikawinkan dengan Kiyai Azak di Kapal, keturunan Arya Kresna Kepakisan, warga kesatrya dari Kediri.

“Ri telas Sri Magadanatha umarek Dalem, kawruh yan sang ari stri inarimaken ring Kyai Azak, mangen angen sira ri bendun ira Dalem, wekasan manastapa ri anten ira, dadi gelis sira aserah kedatuan ekaning pangerahningNegara ring Sang Putra pamayun apatra arya Ngurah Langwang, teher tinengeran Arya Ngurah Tabanan”.

Artinya :
Sesudah Sri Magadanatha menghadap Ida Dalem tahulah beliau bahwa adik perempuannya dikawinkan dengan Kyai Azak. Kecewa beliau dan marah terhadap Ida Dalem. Dengan demikian berinisiatif beliau akan bersemadhi sekeluarga, sehingga segera beliau menyerahkan tapuk Pemerintahan, demikian juga administrasi Negara kepada Putra Pertama yang bernama Arya Ngurah Langwang juga berpredikat Arya Ngurah Tabanan.

“Kunang Sri Magadanatha mahyun lumakwa widon, saha agawya kuwu ring arah meriti saking stana Pucangan, ingarana Kubontingguh, apan maka grahan sang sedeng sungkawa, wekasan sira analap stri, anak ira de Bendesa Pucangan, maka prenah anak amisan saking wadu de sang akuwu maring Kubontingguh”.

Artinya:
Diceritakan Sri Magadanatha berkeinginan meninggalkan Kerajaan serta membangun Kubu disebelah barat daya dari istana Pucangan, bernama Kubontingguh, sebab itu merupakan pondok/rumah orang sedang ditimpa kesedihan. Selanjutnya beliau mengambil istri dari Bendesa Pucangan, dipakai misan dari istri yang berkubu di Kubontingguh.

“Dadi wetu Putra kakung sakung sawiji ingaranan I Gusti Ketut Bendesa, I Gusti Ketut Pucangan tengeran ira waneh. Wekasan ri wus I Gusti Ketut Bendesa anandang wastra akekeris, laju sinerah aken de sang yayah ring sang kaka Arya Ngurah Tabanan tur jenek papareng ungguhin Raja Buahan, pada amukti suka wibhawa”.

Artinya :
Lahirlah putra laki-laki diberi nama I Gusti Ketut Bendesa dengan nama sebutan I Gusti Ketut Pucangan. Lama kelamaan sesudah I Gusti Ketut Bendesa Remaja/Dewasa, diserahkan ayahnya kepada kakaknya Arya Ngurah Tabanan dan bertetap tinggal di istana Kerajaan Buahan, serta menemui kebahagiaan hidup dan kewibawaan.


            Keterangan yang serupa juga di dapat dalam babad Kutawaringin dan usana jawa. Dalam Usana Jawa Tokoh Magadanatha disebut dengan nama lain yakni : Arya Yasan.

2.      Pawuwus.

Pada hari Rabu Kliwon Pagerwesi tanggal 29 Desember 2004 ( tengah malam ) Bendesa Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh yang juga menjabat Bendesa Adat Kubontingguh : I Gusti Agung Nyoman Mastika, dari Jero Kukuh Banjar Denbantas Desa Denbantas Kecamatan Tabanan – Kabupaten Tabanan, bersama dengan Semua Pengurus Pura, Kelihan Adat/Pengurus Adat dan Ketua/Pengelingsir suang-suang pemerajan gede se Desa Adat Kubontingguh  melakukan uparacara untuk bertanya langsung kepada Ida Betara yang berstana di Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh.
            Pada waktu Rsi Markandia dari India menyebarkan Agama Hindu menuju Jawadwipa dan selanjutnya ke Pulau Bali menuju Wangayagede yang akhirnya merabas hutan belantara sampai di suatu tempat yang selanjutnya membuat gubuk diatas tonggak-tonggak kayu ( bun-bun besar ) sebagai sandaran/peningguk yang sudah mendapat kekuatan dari sang Banaspati. Disuatu hari gubuk tersebut mengeluarkan sinar ( metu teja ) yang merupakan pemberian kekuatan dari Sanghyang Tunggal. Dari Gubuk yang berada diatas tonggak bun sebagai penyangga/peningguk yang sangat tangguh yang akhirnya disebut Kubontingguh sebagai pesraman para Yogi.
Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh merupakan kawitan umat Hindu karena merupakan kekuatan, sehingga bagi para umat Hindu yang bisa datang sujud bakti di hadapan beliau sudah jelas mendapatkan keselamatan.
Berlama-lama Bali ditaklukan oleh Majapahit pada tahun 1352 atau abad ke 13 sang Subakti Arya Kenceng mendapatkan wahyu kekuatan (kedirgayusan) sehingga beliau bersabda keturunannya mesti sujud di Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh.

3.      Penelitian Arkeologi.

Laporan penelitian arkeologi Denpasar nomor 362/F9.7/PK/2000 tanggal 15 Nopember 2000. Adanya beberapa temuan baik batu besar yang berada di depan patung Sapi dan ditempatkan di Gedong Pura / Palinggih, ini merupakan salah satu peninggalan pada jaman megalitik/jaman batu.
Di Pelinggih Gedong Agung terdapat ukiran cronogram merupakan pembuatan bangunan atau perbaikan pada saat itu terbaca sbb. Badan atau angga bernilai 1, senjata cakra bernilai 5, burung dan hewan bersayap bernilai 6, api atau dewa api bernilai 3 dan dapat dibaca atau angka tahum 1563 atau 1641 Masehi.

B.     Nama Pura.

Pura ini oleh masyarakat Pengempon dikenal dengan sebutan “PURA KAHYANGAN JAGAT DALEM PURWA KUBONTINGGUH”. Penamaan tersebut terkait erat dengan status dan fungsi Pura yang sifatnya lain dari pura Dalem biasanya yang dikenal di kalangan umat sedharma. Kata Dalem adalah menunjukkan manifestasi Tuhan / Ida Sanghyang Widhi dalam wujud saktinya Siwa yakni yakni “Bhatari Durga” Pelambang Peleburan. Sedangkan kata Purwa diambil dari pengertian asal mula (wit = bahasa bali), berarti asal mula Pura Dalem dalam segala kebesaran prebhawanya. Kata Purwa juga menunjukkan Pura dalam bentuk umum sebagai Kahyangan Jagat Tabanan dengan sistem tata Pemerintahan berdaulatnya Raja Diraja sebelum Negara Indonesia berbentuk Republik. Lebih jauh pengertian asal mula dimaksud adalah mulainya (kawitnya) penguasa Kerajaan mendapatkan kesempurnaan spiritual membasmi malapetaka memohon kehadapan Bhatari Durga dengan sarana mata air keramat disebut Taman Beji sebagai tempat memohon pengeleburan dasa mala. Sebagai asal mula keberhasilan Raja zaman dahulu tersebut menamakan Pura dengan istilah Purwa. Kata Kubontingguh adalah menunjukkan lokasi dan pengempon Pura lebih jelasnya berikut disertakan Kutipan Purana sebagai berikut :

……………. Mangke wuwusen Pura Kawitan keturunan Arya Kenceng ingaranan Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh, Desa Buahan, Wawidangan panagara Singhasana Tabanan. Makadi pengancengKahyangan Puri Agung Tabanan. Maka pengelingsir Pahryangan Jro Agung Kukuh, Desa Denbantas, wewidangan jagat Tabanan, minakadi Pemangku Gede warga Pasek, abhiseka Jro Mangku Gede saking Banjar Bakisan, Panagara Tabanan, Griya Pasekan mwang Griya Majapahit ring Tuakilang Desa Denbantas, Wewengkon jagat Tabanan.

Artinya :

Sekarang keberadaan Pura Kawitan keturunan Arya Kenceng bernama Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh, Desa Buahan, Wilayah Kerajaan Tabanan. Sebagai Penganceng Kahyangan Puri Agung Tabanan. Sebagai sesepuh/Panasehat Parhyangan Jro Agung Kukuh, Desa Denbantas, Wilayah Tabanan. Sebagai Pemangku Gede Warga Pasek, bergelar Jero Mangku Gede dari Banjar BakisanWilayah Tabanan, Demikian juga sebagai Bhagawanta Puri Singasana Tabanan, Griya Pasekan mwang Griya Majapahit di Tuakilang Desa Denbantas Wilayah Tabanan.


C.     Lokasi Pura.

Pura Dalem Purwa Kubontingguh berlokasi di Desa Adat Kubontingguh, Desa Denbantas, Kecamatan Tabanan – Kabupaten Tabanan. Lokasi tersebut di pinggiran kota Tabanan, di lereng jurang/kali/sungai. Jalan menuju lokasi tersebut dapat ditempuh dengan berbagai sarana seperti : sepeda, sepeda motor, mobil roda empat, Truk dan Bus. Mencapai lokasi Pura dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu :
  1. Dari jantung kota Tabanan tepatnya diperempatan kantor Bupati Tabanan menuju ke arah utara hingga kebendesaan Denbantas. Dusun Bakisan belok kiri menuju arah barat, kemudian turun menuju lembah sungai hingga sampai dilokasi Pura.
  2. Selain itu juga dapat ditempuh melalui dusun Tuakilang ke utara sampai di terminal Tuakilang belok ke kanan menuju dusun Kubontingguh sampai di lokasi Pura.
Jarak dari kota Tabanan ke lokasi Pura dari dua arah yang dimaksud adalah hampir sama + 2,5 km. Jarak dari kota Provinsi Bali ( Denpasar ) 24,5 km.

 Batas-batas lokasi Pura adalah :
-          Disebelah utara jalan raya Adat Kubontingguh
-          Disebelah timur dibatasi oleh kali atu sungai
-          Disebelah selatan Persawahan subak uma tegal
-          Disebelah barat tegalan pribadi milik masyarakat setempat.

Secara Geografis Daerah ini merupakan dataran dengan ketinggian antara 100 – 150 meter di atas permukaan air laut. Tanah di Daerah ini merupakan endapan Tufa Beratan Purba. Dilihat dari vegetasi yang berkembang umumnya berupa tanaman padi, kopi, cengkeh, pisang dan beberapa jenis tanaman berumur panjang seperti enau, bambu, nangka dan kelapa. Secara Astronomislokasi ini terletak pada koordinat 115 derajat 19’15”BT. 8 derajat 9’14”LS.

 

D.    Status Pura

Sesuai surat keterangan Nomor 243/Kahy.1/PHD/1996 tanggal 13 Mei 1986 dari Parisada Hindu Dharma Tabanan, bahwa status Pura adalah Dang Kahyangan dan (teritorial) ini di fungsikan sebagai Tri Kahyangan Dalem Desa Adat Kubontingguh, Desa Denbantas, Kecamatan Tabanan-Kabupaten Tabanan.
            Dengan adanya pelurusan nama Pura-pura yang dulu Kahyangan Jagat dinamai Dang Kahyangan, sekarang dengan adanya pelurusan dari Propinsi Bali yang berhak bernama Dang Kahyangan adalah Pura-pura yang ada lintasan /pemargin Dang Hyang Nirartha, sedangkan Pura Dalem Purwa Kubontingguh bersetatus Dang Kahyangan, akibat pelurusan itu untuk tidak rancu, maka sejak hari Rabu tanggal 30 Juni 1999 saat Karya Pemelaspas Agung, Ngenteg Linggih saha tawur Agung, Pura Dalem Kahyangan Kubontingguh sekarang kembali bernama “ KAHYANGAN JAGAT DALEM PURWA KUBONTINGGUH”.


 



 





Sumber : http://desaadatkubontingguh.blogspot.com
READ MORE - PURA DALEM PURWA KUBONTINGGUH

SEJARAH KOTA SINGARAJA

Minggu, 31 Oktober 2010

Ki Gusti Panji Sakti, seorang yang dijuluki banyak nama: Ki Barak, Gde Pasekan, Gusti Panji, Ki Panji Sakti, Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, yang berkonotasi tangguh – teguh, berjiwa pemimpin, merakyat, memiliki daya super natural – sakti, adalah pendiri kerajaan Buleleng di tahun 1660an. Sebelumnya wilayah Buleleng dikenal dengan nama Den Bukit. Masyarakat Bali Selatan jaman berkembangnya pengaruh Majapahit, Den Bukit dilihat sebagai “daerah nun disana dibalik bukit”. Daerah misterius, terra incognito, banyak pendatang silih berganti, bajak laut. Orang yang ingin tinggal menetap mereka menjauhi daerah pesisir, memilih tempat lebih ke tengah, ke wilayah sebelah Selatan. Maka itu wilayah di selatan bukit disebut Bali Tengah atau Bali Selatan.


Selama berkuasa di Den Bukit Panji Sakti sejak 1660an sampai 1697 sangat disegani kawan maupun lawan. Dengan pasukan Gowak yang diorganisir bersama rakyat, beliau menguasai kerajaan Blambangan, Pasuruan, Jembrana. Hingga tahun 1690an Panji Sakti menikmati kejayaannya.
Buleleng adalah nama puri yang dibangun Panji Sakti di tengah tegalan jagung gembal yang juga disebut juga buleleng. Letaknya tidak jauh dari sungai yang disebut juga tukad Buleleng. Purinya disebut Puri Buleleng. Puri yang yang lebih tua, terletak di desa Sangket yang dinamai puri Sukasada. Ki Gusti Panji sakti diperkirakan wafat tahun 1699 dengan meninggalkan banyak keturunan.

Namun sayang putra-putra Ki Gusti Panji Sakti mempunyai pikiran yang berbeda satu sama lain sehingga kerajaan Buleleng menjadi lemah. Kerajaan Buleleng terpecah belah. Akhirnya dikuasai kerajaan Mengwi, termasuk Blambangan. Lepas dari genggaman Mengwi kemudian tahun 1783 jatuh ke tangan kerajaan Karangasem. Sejak itu terjadi beberapa kali pergantian raja asal Karangasem. Salah seorang raja asal Karangasem yaitu I Gusti Gde Karang bertakhta sebagai raja Buleleng tahun 1806-1818. Sebagai raja Buleleng beliau juga menguasai kerajaan Karangasem dan Jembrana. Beliau dikenal berwatak keras dan curiga kepada bangsa asing. Memang pada jaman itu bangsa asing seperti Belanda dan Inggris ingin menguasai Bali melalui Buleleng dan Jembrana.


View Larger Map

Sir Stamford Raffles seorang Inggris jatuh cinta terhadap Bali, baik alam dan budayanya setelah sempat mengunjungi pulau mungil ini di tahun 1811. Setelah itu beliau datang lagi ke Buleleng ingin bekerjasama dengan I Gusti Gde Karang untuk membangun kota pelabuhan dengan nama Singapura. Raffles tergiur melihat ramainya pelabuhan Buleleng dengan lokasi yang dilihatnya sangat strategis di antara kepulauan Nusantara. Memang Buleleng jaman itu sedang jayanya dari hasil monopoli candu dan penjualan budak. Raja Buleleng I Gusti Gde Karang rupanya tertarik dengan rencana Raffles. Namun tidak bisa dilaksanakan, karena Raffles sendiri sangat menentang penjualan budak yang selama ini terus dilaksanakan oleh raja I Gusti Gde Karang. Diantara cinta dan dendam, tahun 1814 pihaknya membawa kapal perang Inggris ke Buleleng, namun tidak terjadi pertempuran.



Pada malam hari, Rebo tanggal 24 Nopember 1815 terjadi musibah bencana alam di Buleleng. Beberapa desa tertimbun lumpur dengan penghuninya, ada yang hanyut kearah laut bersama penduduknya.
Setelah itu I Gusti Gde Karang membuka lahan dan membangun istana baru, terletak di sebelah Barat jalan yang dinamai puri Singaraja. Puri baru itu berseberangan jalan dengan Puri Buleleng yang dibangun Ki Gusti Pandji Sakti.
READ MORE - SEJARAH KOTA SINGARAJA

SEJARAH BALI

Minggu, 17 Oktober 2010

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100 SM.


Pulau Bali

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu.
Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali. Dan tetap melestarikan kebudayaan dan tetap dominan beragama Hindu sampai sekarang.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain.
Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[1]
READ MORE - SEJARAH BALI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...